Jiwa Labil dan Konsistensi Berhijab


Baru-baru ini sedang ramai tentang seorang artis yang memutuskan untuk tidak berhijab lagi. Keputusan yang tidak hanya menjadi urusan dia sendiri karena ia adalah salah satu public figure. Banyak yang menghargai jalan hidup yang ia pilih namun banyak juga yang menyayangkan bahkan sampai menghujat keputusan yang telah dia buat. Aku sendiri tak bisa menyalahkan pilihan hidup setiap orang. Bagiku setiap orang punya jalan sendiri untuk bisa konsisiten berhijab. Jalan panjang yang mudah dilalui oleh seseorang, tapi tampak berliku bagi sebagian yang lain.

Aku adalah satu dari sekian orang yang harus melalui jalan panjang dan berliku untuk sampai ke tahap konsisten berhijab. Ada satu titik aku lelah dengan perjalanan itu. Dan hampir menyerah untuk menanggalkan hijabku. Semua bermula pada masa remajaku. Masa remaja yang tak biasa. Masa pencarian jati diri yang membawaku pada lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan yang bisa membawa pengaruh buruk pada remaja seusiaku.


Aku dulu asing dengan hijab. Aku terbiasa dengan celana jeans sobek selutut dan kaos tanpa lengan. Aku masih ingat bagaimana salah satu saudara ibuku memberi label kepadaku sebagai anak urakan yang tidak bisa di atur. Karena sebagian besar keluarga ibuku adalah lulusan pesantren maka wajar jika melihat penampilanku yang seperti itu sudah berpikir negatif tentangku. Aku paham dengan pemikiran mereka namun aku tetap tak peduli dengan penilaian mereka terhadapku. Aku tetaplah aku yang selalu membuat berisik jalan kampung saat kongkow bersama geng motorku. Aku tak peduli bila para sepupu protes kepada ibuku karena aku selalu pulang malam. Bahkan beberapa kali aku tidak pulang. Bapak Ibu sudah hafal kemana aku pergi. Aku menginap di rumah temanku. Tak jarang niat menginapku gagal karena bapak sudah terlebih dulu menjeputku di rumah salah satu temanku. Duh bisa dibayangkan seperti apa bandelnya diriku.

Setelah masuk Sekolah Menengah Atas ada perubahan positif dalam diriku. Aku mulai mengenakan hijab. Meskipun hijab yang aku kenakan masih sekedarnya, sebatas bisa menutupi rambutku. Setidaknya orang tuaku lega karena aku juga aktif di organisasi keislaman di daerahku. Organisasi yang tak hanya menerima orang-orang "suci" saja. Tapi semua diterima termasuk aku yang masih berproses dalam hijab. Berkumpul dengan teman-teman yang sudah lebih dulu menyempurnakan hijabnya membuat hatiku tergerak. Dan setelah melewati dialog panjang dengan diri sendiri, aku memutuskan mengganti penampilanku. Aku mulai memakai rok panjang dan kerudung yang tidak transparan. 


Aku mulai konsisten menggunakan rok panjang. Hingga suatu titik konsistensiku memudar. Tepatnya sejak aku bergabung dengan sanggar teater. Aku dan anggota lainnya dituntut untuk totalitas saat berada di atas panggung. Terutama ketika teaterku diundang untuk tampil oleh pihak di luar sekolah. Dan pada sebuah pementasan, atas nama totalitas aku melepas hijabku. Awalnya ada rasa tak nyaman saat di ruang make up sesaat sebelum pementasan. Tapi seorang pelatih berkata kalau itu adalah konsekuensi peran yang aku pilih. Hari itu hari yang sangat aku ingat karena aku berhasil membawakan peranku dan  pementasanku sukses, tapi aku telah gagal mempertahankan konsistensi hijabku. Hal yang membuat aku semakin tak nyaman adalah ada salah satu teman memergokiku tanpa hijab saat makan siang setelah pementasan. Ia adalah teman yang juga menjadi  anggota organisasi keislaman yang aku ikuti. 

Tidak hanya sampai disitu. Konsistensi hijabku juga diuji saat aku berteman dengan teman-teman yang ternyata adalah pecandu narkoba. Aku selalu melepas hijabku saat bersama mereka. Meski aku tak sampai menjadi pecandu seperti mereka. Aku hanya tahu seperti apa wujud barang haram itu saat teman-temanku bertransaksi. Padahal usia remaja identik dengan rasa penasaran yang tinggi. Tapi entahlah aku tak tertarik untuk mencobanya atau  sekedar membawanya di tas. Mungkin doa-doa ibuku masih menyelamatkanku. 

Titik balik aku akhirnya konsisten lagi menggunakn hijab adalah saat penghujung kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat itu aku sudah mulai tidak aktif di kegiatan teater dan jarang berkumpul dengan teman-teman para pecandu karena kesibukanku. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dan saat weekeend tiba mengikuti kegiatan tadabur alam ke luar kota yang diadakan oleh organisasi keislaman yang aku ikuti. Tadabur alam itu isinya jalan-jalan sekaligus belajar tentang Islam. Dan dari acara itu ada seorang teman yang sudah duduk di bangku kuliah memberiku sebuah hijab instan berwarna putih yang ukurannya lebih lebar dari hijab yang biasa aku pakai. Ia memintaku mencoba memakainya. Entah kenapa saat itu aku nyaman dengan hijab itu. Hingga mulai saat itu aku berniat tak pernah lagi melepas hijabku, apapun yang terjadi. 

Iman seseorang naik dan turun. Semoga aku bisa konsisten berhijab hingga ujung usiaku. Dan semoga aku bisa terus berproses menyempurnakan hijabku. Allah maha membolak-balikkan hati. Hanya doa yang mampu aku lakukan agar tak goyah lagi. 




1 komentar

  1. Luar biasa.. tidak terduga mbak tata yang aku kenal memiliki kisah dengan perasaan yang tiada henti untuk memperjuangkan jilbab. Semoga selalu dalam lindungan dan berkah Allah ya mbak😘

    BalasHapus