Etika Berinteraksi Di Media Sosial

etika berkomentar di media sosial, etika mention dan tega teman di media sosial
Kehadiran media sosial menjadi angin segar untuk orang-orang yang selama ini kehilangan teman-teman masa kecilnya. Media sosial  mendekatkan orang-orang yang jauh di mata. Tak peduli dimana kita tinggal, media sosial telah memfasilitasi kita untuk menyapa dan berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia.

Bagai dua sisi mata uang. Media sosial juga punya sisi negatif. Hubungan yang sudah terjalin baik di dunia nyata bisa retak hanya gara-gara interaksi sesaat di media sosial. Jika kita bisa bercanda dengan leluasa di dunia nyata, tapi tidak saat berinteraksi di media sosial. Karena tulisan tidak punya intonasi, gestur tubuh juga tak bisa terbaca di media sosial. Semua tergantung bagaimana masing-masing individu menafsirkan setiap kalimat di media sosial.

Oleh karena itu, kita harus bijak menggunakan media sosial. Jangan sampai kehadiran media sosial justru membuat kita kehilangan kepercayaan dari teman. Bahkan, yang lebih mengerikan adalah membuat kita kehilangan sahabat-sahabat terbaik yang selama ini sudah seperti saudara.

Etika Berkomentar Di Media Sosial

Meskipun tidak berhadapan secara langsung dengan yang bersangkutan, bukan berarti kita bisa menulis komentar sesuka hati di postingan orang lain. Jarimu harimaumu. Begitulah hukum yang berlaku di media sosial. orang-orang yang tidak bisa menjaga jarinya saat berkomentar di postingan orang lain ibarat senjata makan tuan.

Kenali Karakter Orang

Niat baik tidak selamanya diterima baik. Kalimat tersebut harus selalu diingat. Terlebih saat berinteraksi dengan orang di media sosial. Menulis komentar di postingan orang lain dengan maksud ikut memberi solusi, tapi kenyataannya si empunya postingan justru tersinggung dengan komentar kita. Padahal niat kita tulus ingin membantu yang bersangkutan.

Karakter orang yang berbeda-beda membuat kita harus lebih hati-hati memainkan jari. Ada tipe orang yang sebenarnya tidak butuh solusi saat mereka mengeluhkan masalah di media sosial. Mereka hanya butuh empati. Memberi solusi kepada tipe orang seperti ini kurang tepat.

Ada juga tipe orang yang sengaja "pamer" di media sosial. Entah berkaitan dengan harta atau prestasi yang dicapai. Jangan menulis komentar yang menjatuhkan. Karena mereka hanya butuh pengakuan atas jerih parahnya selama ini. Sebagai teman, kita bisa berkomentar yang membuat hatinya senang. Jangan merusak kebahagiannya dengan komentar julid kita.

teman-teman yang sering memposting hal-hal yang berbau religi atau kata-kata bijak, bukan berarti mereka menceramahi kita. Tahan jarimu untuk berkomentar yang kurang pantas. Karena sesungguhnya mereka hanya ingin mengingatkan diri sendiri melalui postingan tersebut. Jika postingan tersebut bermanfaat untuk yang lain, itu hanya bonus.

Mengenal beragam karakter orang di media sosial tidak harus berinteraksi di dunia nyata sebelumnya. Kita bisa mencermati setiap postingannya di media sosial dan bagaimana dia merespon setiap komentar. Dua poin tersebut sudah bisa  menunjukkan karakternya.

Etika Mention dan Tag Teman Di Media Sosial

Sudah sah berteman di media sosial bukan berarti kita bisa berbuat sesuka hati kepadanya. Tetap ada Batasan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh kita lakukan. Salah satu yang harus diperhatikan adalah saat mention atau "mencolek" teman di postingan kita. 

Aku sering mendengar atau membaca keluhan teman-teman yang keberatan akunnya dimention karena notifnya berisik. Sebenarnya tidak ada yang salah mention teman di media sosial. Asalkan memperhatikan beberapa hal berikut :

Kenal Secara Personal 

Sebelum mention sebuah akun, pastikan sudah kenal secara personal dengan pemilik akun tersebut. Bila belum pernah ketemu di dunia nyata, setidaknya pernah bertegur sapa lewat obrolan di grup komunitas. Sangat aneh jika belum pernah kenal sebelumnya tiba-tiba mention yang bersangkutan. Apalagi mention di lapak online shop. 

Aku biasanya hanya mention akun teman yang secara personal sudah lumayan dekat. Setidaknya sudah sering bercanda meskipun hanya lewat obrolan grup. Jujur, aku tidak berani mention akun yang tidak begitu kenal atau jarang berinteraksi dengan yang bersangkutan. Kadang, walau kenal secara dekat, aku lebih suka membagikan informasi lewat jalur pribadi dari pada mention di sebuah kolom komentar. 

Aku pernah punya pengalaman yang tidak menyenangkan terkait mention di media sosial. Aku tidak kenal sama sekali dengan akun A. Tapi tiba-tiba Dia follow salah satu akun media sosialku. Sejurus kemudian Dia tag aku di semua postingan dagangannya. Hal tersebut terjadi berulang-ulang. Tentu tindakan itu sangat mengganggu. Alih-alih membeli dagangannya, aku langsung memutuskan semua akses pertemanan dengan tipe orang yang seperti itu. 

Meminta Izin 

punya teman yang selalu meminta izin jika ingin mention aku di postingannya. Meskipun terlihat sepele, tapi aku suka dengan caranya menghormati privasi seseorang. Jika sudah meminta izin, biasanya aku akan dengan senang hati meramaikan postingannya.

Tidak dapat dipungkiri, kadang memerlukan beberapa mention akun teman untuk postingan di media sosial kita, teruma postingan instagram. Entah untuk kebutuhan lomba, seru-seruan, atau untuk urusan pekerjaan. Hal ini sah-sah saja asal kita mempunyai etika. 

Itulah etika berinteraksi di media sosial menurutku. Hubungan tetap harus dijaga meskipun hanya di dunia maya.  Kalau menurut kalian bagaimana?  





Tidak ada komentar