5 Kriteria Suami Idaman Cewek Cancer

setiap cewek bisa mengidamkan memiliki suami yang sesuai dengan keinginannya. aku memiliki 5 kriteria suami idaman
5 Kriteria Suami Idaman Cewek Cancer- Harapan adalah doa dalam diam. Doa-doa yang sering terkabul tanpa disadari. Setidaknya itulah yang terjadi padaku. Ketika teman sebaya sibuk menentukan kriteria pacar yang ingin dimiliki, aku diam-diam menulis kriteria calon suamiku kelak. Di usia yang  masih terlalu dini untuk membicarakan calon suami.  Mungkin anak zaman sekarang bisa mengatakan aku terlalu halu. 

Aku masih berada di sekolah menengah pertama. Tapi aku sudah memikirkan kriteria calon suami. Sedangkan saat itu pacar saja aku tidak punya. Teman cowok tentu saja banyak karena rata-rata temanku adalah cowok. Namun, aku tak punya waktu untuk kencan ala remaja. Hari-hariku terlalu sibuk dengan urusan belajar dan aktif  dalam organisasi pelajar yang ada di kotaku. 

Kriteria Suami Idaman 

Sabar

Kriteria ini menjadi poin utama yang aku lihat dari cowok. Sebagai anak berzodiak cancer yang mempunyai sifat keras, aku mendambakan pendamping hidup yang bisa mengimbangi karakterku yang tidak sabaran dan ceroboh. Aku juga butuh calon ayah yang sabar untuk anak-anakku. Sifatku yang jauh dari kata sabar akan menjadi bumerang ketika mendidik anak kelak. Jadi, aku memerlukan pasangan yang sabar. Sifat sabar adalah harga mati yang tidak bisa ditawar jika ingin menjadi pendamping hidupku. Ternyata Tuhan sangat baik hati. Aku mendapatkan belahan jiwa yang sangat sabar. 

Umurnya Lebih Tua 

Aku beranggapan bahwa memiliki pasangan yang umurnya sepadan akan menimbulkan pertengkaran terlalu sering. Karena egonya masih sama-sama tinggi. Oleh sebab itu, salah satu kriteria suami idaman saat itu adalah kakak tingkat yang usianya terpaut 3-5 tahun dariku. Ibaratnya, jika usia suami lebih tua akan bisa “ngemong” gadis cancer yang haus kasih sayang. 

Tuhan akhirnya memberiku jodoh cowok yang usianya 4 tahun di atasku. Jodoh yang sesuai dengan harapanku. Jadi, benar seperti yang sering aku dengar, Tuhan sesuai dengan prasangka hambaNya. Hal detail yang aku idamkan beberapa tahun silam ternyata dikabulkan Tuhan.  

Tidak Merokok

Bapak adalah perokok berat. Aku tidak suka dengan bau rokok. Aku mendambakan suami yang tidak merokok. Seorang sahabata dekat pernah mengatakan bahwa kriteria yang aku tetapkan terlalu rumit. Sebagian besar cowok adalah perokok. Hanya satu dua saja yang tidak merokok. Tapi aku tidak mengubah kriteria suami idamanku. 

Jika sedang dekat dengan seorang cowok, aku akan segera memeriksa apakah dia perokok atau bukan.  Meskipun ganteng dan pintar, ketika dia merokok maka secara otomatis coret dari daftar cowok idaman. Lagi-lagi Tuhan baik hati. Aku mendapatkan suami bukan perokok meskipun semua anggota keluarganya adalah perokok berat. 

Pecinta Buku

Sejak kecil aku sudah suka dengan buku. Aku hobi membaca. Kebiasaan sepulang sekolah dulu adalah mampir ke toko buku. Bisa membaca buku yang sudah dibuka segelnya di toko buku sudah membuatku senang. Aku menyisihkan Sebagian uang saku untuk membeli buku yang aku incar berbulan-bulan. Kebiasaan burukku membaca buku sambal tiduran membuat mataku minus dan harus memakai kaca mata. Tapi aku tetap suka buku. Aku bisa berlama-lama di perpustakaan sekolah untuk membaca buku.

Kecintaanku dengan buku membuatku ingin memiliki pendamping hidup pecinta buku. Aku ingin membuat perpustakaan pribadi bersama dia di rumah kami kelak. Isi perpustakaan pribadi tersebut adalah kumpulan buku-buku yang kami sukai. Pasti menyenangkan bisa berburu buku bersama pasangan. Aku juga ingin anak-anak gemar membaca karena melihat kedua orang tuanya hobi membaca. Tuhan telah mengabulkan harapanku bertahun-tahun kemudian. Aku memiliki suami seorang pecinta buku. 

Bisa Memasak 

Lahir di keluarga yang selalu disajikan dengan beragam menu masakan, membuatku pernah berharap memiliki suami yang bisa memasak. Setidaknya ma uke dapur untuk membantu istrinya memasak. Mungkin karena aku melihat bapak adalah sosok yang bisa memasak. Sehingga tanpa sadar aku menginginkan suami seperti bapak. Aku bersyukur akhirnya punya suami yang sesekali bisa diandalkan di dapur. Meskipun tidak pandai memasak seperti harapanku. Setidaknya mau memasak ketika aku sedang sakit atau ketika aku sedang pergi. Aku tidak khawatir anak-anak kelaparan karena memiliki ayah yang bisa memasak menu sederhana. 


Tidak ada komentar