Susur Kampung Dolly Surabaya : Pendidik Pancasila Bermain Angklung Bersama Santri Pesantren Jauharotul Hikmah Putat Jaya

Susur Kampung Dolly Surabaya : Pendidik Pancasila Bermain Angklung Bersama Santri Pesantren Jauharotul Hikmah Putat Jaya - Aku beruntung bisa menjadi bagian dari agenda Susur Kampung Eks Lokalisasi Dolly yang terletak di daerah putat jaya Surabaya. Kegiatan tersebut melibatkan pendidik Pancasila, penggiat kampung, komunitas, dan jejaring. Walau sering mendengar cerita tentang kampung Dolly, tapi aku belum pernah ke daerah itu. 

Siapakah Pendidik Pancasila? teman-teman yang selama ini konsen menggaungkan falsafah Pancasila dalam kehidupan. Bahwa Pancasila itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Toleransi, gotong royong, tenggang rasa, dan kerja sama adalah bagian dalam jiwa Pancasila. 




Meskipun tempat lokalisasi terbesar di asia tenggara tersebut sudah ditutup oleh Wali Kota Surabaya Ibu Risma tahun 2014, kesan negatif tetap melekat pada sebagian besar orang, terutama yang tinggal di Surabaya. Awalnya aku juga berpikir demikian. Namun, melihat aktifitas kampung Dolly dari dekat ternyata mampu mengubah pandangan negatif itu. Walau belum sepenuhnya.


Satu hal yang menarik ketika susur Kampung Dolly bersama pendidik Pancasila, saat kami singgah di sebuah pesantren di gang sempit. Sebuah gang yang dulunya tempat para pekerja seks komersil menjajakan tubuhnya. Rumah yang disulap menjadi tempat beragam aktifitas keagamaan itu mencuri perhatianku. Ternyata masih ada secercah harapan untuk generasi muda di lingkungan Dolly.

Kehadiran Pesantren Jauharatul Hikmah (JEHA) di tengah Kampung Dolly bagai oase di Padang Pasir. Santri yang ada di pesantren JEHA  adalah anak-anak warga di kampung tersebut. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang kurang kondusif. Ingatan tentang Dolly yang dulu pasti masih melekat dalam benak mereka.

Salah satu pengajar pesantren JEHA

Aku salut dengan semangat ustaz atau ustazah di Pesantren JEHA. Kegigihan mereka mendampingi anak-anak yang sebagian sudah terkontaminasi dengan aktifitas Dolly terdahulu. Anak-anak yang tinggal di Kampung Dolly ada yang sudah terbiasa minum minuman keras di usia Sekolah Dasar. Minuman Keras bagi mereka seperti air putih yang diminum setiap hari. 

Pengabdian para ustaz dan ustazah di pesantren tersebut patut diapresiasi. Berdakwah di medan yang tak biasa tentu bukan perkara mudah. Bahkan, ada yang pernah bernazar ketika sakit, jika diberi kesembuhan, beliau akan mengabdikan hidupnya untuk pesantren Jeha. Dadaku bergemuruh saat mendengarkan cerita tersebut. Aku salut dengan perjuangan mereka.

Pendidik Pancasila memberikan apresiasi kepada salah satu santri yang berhasil keluar dari dunia kelam

Anak-anak memang tidak bisa memilih dilahirkan di mana. Begitu juga dengan anak-anak di Kampung Dolly. Meskipun lahir di lingkungan yang kurang kondusif, mereka berhak untuk berjuang menjadi manusia yang lebih baik. Sebagaimana yang tertuang dalam sila ke 2 Pancasila yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab.

anak-anak yang masih punya harapan dan siap menggapai mimpinya
Tempat di mana seseorang dilahirkan tidak boleh membuatnya dihina, direndahkan, apalagi dibiarkan dalam kebodohan. Setiap warga negara punya hak yang sama.  Anak-anak di Kampung Dolly juga berhak meraih mimpinya. Mereka berhak memperbaiki akhlaknya terlepas seperti apa orang tuanya. Mereka adalah generasi penerus bangsa. Di Pundak mereka wajah Indonesia kelak. 

Pendidik Pancasila Bermain Angklung Bersama Santri JEHA 

Sebagai orang yang berasal dari luar Kampung Dolly, tetap bisa berpartisipasi memulihkan mental anak-anak harapan bangsa tersebut. Sebagaimana yang kami lakukan. Kami, gabungan dari asosiasi guru sejarah Jawa Timur, komunitas, penggiat kampung, dan jejaring bersinergi memberi suntikan semangat kepada anak-anak tersebut. Kami juga menularkan semangat kebersamaan dan gotong royong melalui cara yang fun, yaitu bermain angkulung bersama-sama. 




Kenapa angklung? Karena ada filosofi yang mendalam dibalik bermain angklung. Setiap orang yang memegang angklung, hanya bisa memainkan satu tangga nada. Padahal untuk menghasilkan sebuah irama, dibutuhkan tangga nada lainnya. Artinya, angklung tidak bisa dimainkan sendiri. Harus ada kerja sama dalam tim untuk menghasilkan lagu yang indah. 


Begitu juga dalam hidup bermasyarakat. Kita harus bisa bekerja sama, gotong royong agar mencapai satu tujuan. Kami menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui angklung. Anak-anak bisa memahami falsafah Pancasila dengan cara yang asyik. Pesan yang ingin kami sampaikan dalam acara bermain angklung bersama ini adalah Persatuan Indonesia bisa tercipta jika dimulai dari hal yang kecil dan sedini mungkin melalui generasi muda bangsa. 

Wajah Baru Kampung Dolly 

Selain Pesantren Jeha yang semakin hari semakin banyak jumlah santrinya, Kampung Dolly juga sudah bisa bangkit kembali. Warga yang dulu berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial, telah dibina oleh pemkot Surabaya. Hadirnya UMKM Kreatif sebagai bukti bahwa Kampung Dolly mampu move on dari dunia kelam. 

Singgah di rumah Batik


Aku terkesima dengan kain-kain batik karya warga Kampung Dolly yang ada di Rumah Batik. Kain batik penuh warna seakan menggambarkan hidup mereka yang sekarang lebih berwarna. Rumah Batik yang ada di Kampung Dolly seakan menjadi saksi bahwa manusia bisa berubah jika ada kemauan. Sesulit apapun situasinya. 
proses membatik
Batik Karya Warga Kampung Dolly 

Selain memproduksi batik dengan motif-motif cantik, sebagian warga Kampung Dolly juga menopang perekonomian mereka melalui dunia kuliner. Ada satu menu andalan Kampung Dolly yang sudah sangat terkenal. Bahkan, menu tradisional ini menjadi favorit Mantan Presiden Mega Wati. Menu tersebut adalah Bothok Telur Asin. 
pendidik pancasila antusias menyimak bagaimana warga di eks lokalisasi ini bangkit kembali

Kami berkesempatan untuk mencicipi Bothok Telur Asin yang legendaris itu. Biasanya aku kurang begitu suka dengan Bothok. Lauk makan yang identik dengan rempah dan kelapa parut  yang dibungkus daun pisang. Bothok yang sering aku jumpai adalah Bothok tahu tempe, Bothok ikan, Bothok ayam. Tapi Bothok Telur Asin masih belum familiar buatku. 
Bothok Telur Asin Legendaris 

Saat seorang teman menyodorkan sebungkus Bothok Telur Asin,  aku kurang tertarik untuk mencobanya. Tapi rasa penasaranku membuat tanganku cekatan membuka bungkusnya. Aku pikir satu suapan sudah mampu menjawab rasa penasaranku. Ternyata aku ingin meneruskan suapan berikutnya sampai tak ada bothok yang tersisa di daun pisang.

Susur Kampung Dolly mengajarkan banyak hal kepadaku. Terutama tentang bagaimana kita memahami nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Belajar lebih manusiawi dan merenungkan jika keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu harus benar-benar diwujudkan. Bukan sekadar pemanis bibir saat kita mengucapkan isi Pancasila.

Tidak ada komentar