Alasan Anak SD Membenci Temannya

alasan anak sd membenci temannya beragam. mulai karena sering diganggu sama memiliki rasa iri kepada temannya
Alasan Anak SD membenci Temannya- Masa sekolah dasar harusnya menjadi masa yang menyenangkan. Anak-anak bertemu dengan teman baru dengan berbagai karakter. Usia belia yang belum banyak terkontaminasi oleh pergaulan yang kurang baik. Namun, siapa sangka justru masa Sekolah Dasar ini di satu sisi adalah masa yang paling berat untuk anak. 

Proses adaptasi dengan teman yang berbeda sifat dan kebiasaan kadang menimbulkan gesekan. Ada kalanya menimbulkan perasaan benci kepada temannya. Anak-anak yang masih berada di jenjang SD bisa sangat membenci teman sekelasnya karena berbagai alasan. Diantaranya sebagai berikut:

Sering Diganggu

Anak-anak yang sering diganggu oleh temannya, cenderung tidak suka sampai membenci teman-temannya. Karena anak tersebut merasa terganggu dengan tingkah polah temannya. Anakku pernah cerita merasa tidak nyaman dengan teman sekelasnya karena sering diganggu. Dia sampai membenci satu temannya. Bahkan, sering badmood kalua satu kelompok dengan teman yang selalu mengganggunya. 

Tapi berbeda denganku.  Aku tidak punya pengalaman diganggu atau sampai tidak suka dengan teman SD. Mungkin teman-temanku dulu yang merasa terganggu denganku. Aku suka usil kepada mereka. bisa dikatakan masa SD aku menjadi anak yang ugal-ugalan seperti preman. Tak ada dalam kamusku takut kepada teman. Bahkan kepada teman laki-laki yang banyak ditakuti anak perempuan. 

Rasa Iri

Alasan lain seorang anak SD membenci temannya adalah rasa iri. Rasa iri ini beragam bentuknya. Iri dengan kemampuan temannya, iri dengan mainan yang dimiliki temannya, dan masih banyak lagi. Karena anak-anak usia Sedkolah Dasar masih menjadikan teman sebagai parameter hidupnya. Apa yang dilihat dari seorang teman, sangat berpengaruh terhadap dirinya. 

Jika mengenang masa SD, ada satu peristiwa yang tidak pernah aku lupakan. Peristiwa tentang kebencian seorang teman dekat kepadaku karena rasa iri. Hal ini aku sadari setelah kami lulus dan berjauhan. Dulu, aku tak tahu alasan dia membenciku. Karena kami dekat satu sama lain. Orang tua kami juga masih mempunyai hubungan kekerabatan. 

Suatu hari, aku bertugas membawa pulang bunga kelas. Bunga yang biasa diletakkan di meja guru tersebut harus dibawa pulang setiap akhir pekan. Petugasnya bergilir satu kelas. Ketika giliranku, bagian bunga tersebut hilang satu. aku sudah berusaha menyusuri jalan mencarinya. Namun, aku tidak berhasil menemukannya. 

Keesok harinya, kelas menjadi heboh karena aku menghilangkan satu bagian dari bunga plastik tersebut. Teman dekatku yang biasa bersamaku, mendadak mengusulkan ke forum kelas agar aku mengganti dengan bunga plastik baru. Dia meyakinkan semua anak bahwa itu adalah kelalaianku dan aku harus menggantinya. Akhirnya semua sepakat agar aku membelikan bunga baru untuk meja guru. 

Sebagai anak SD yang hanya tinggal bersama kakek nenek, tentu saja aku panik. Aku menangis sepanjang jalan. Aku tidak punya uang untuk membeli bunga plastik baru dan tidak punya cukup keberanian untuk meminta kepada nenek. Melihat mataku memerah karena terlalu banyak menangis, kakekku akhirnya memintaku bercerita tentang masalah yang aku hadapi. Beliau juga memberiku uang untuk membeli bunga plastik baru. Aku bisa mengganti bunga di meja guru dengan senyum kebahagiaan. 

Waktu berjalan seperti biasa. Aku tetap ceria layaknya anak-anak lain. Hingga suatu hari, beberapa teman mendatangiku. Mereka menceritakan hal yang selama ini tidak aku ketahui. Tentang peristiwa bunga plastik. Merka bercerita jika bagian bunga plastik yang hilang ternyata ditemukan oleh teman dekatku di jalan. Tapi dia memilih untuk menyembunyikannya. Mereka juga memberitahuku bahwa teman dekatku itu membenciku. Alasannya karena aku adalah saingan terberatnya untuk mendapatkan posisi juara 1. 

Aku sangat terpukul saat itu. Aku tidak menyangka teman dekatku membenciku sedemikian rupa. Dia membenciku karena iri denganku. Beberapa kali posisi juara 1 berhasil aku raih. Begitu juga saat kelulusan. Predikat juara umum berhasil aku raih. Dia hanya ada di posisi 2. 

Mendengar cerita teman-temanku, aku sempat membencinya. Membenci sifat jeleknya. Membenci rasa iri yang dimilikinya. Mengapa anak usia SD yang harusnya bisa bergaul tanpa tendensi, ternyata bisa membenci sahabatnya sendiri. Yup, aku pernah membenci teman SD karena perilakunya yang menurutku tidak manusiawi untuk anak seusia dia saat itu. 

Tapi, sekarang aku bisa memaafkannya meskipun tidak bisa melupakan peristiwa tersebut. Semoga dia bisa mengikis rasa irinya kepadaku. Karena ternyata sampe detik ini dia masih sering iri kepadaku. Ada banyak teman yang memberitahuku. Dia masih selalu ingin tahu kehidupanku walau aku tak pernah sekalipun ingin tahu kehidupannya sekarang. 



1 komentar

  1. Rasa iri jaman SD kalau sudah saingan masalah prestasi memang nggak bisa diganggu gugat. Sebel mulu kalau kalah atau dikalahkan. 😂

    BalasHapus