SKM Bukan Susu yang Bisa Dikonsumsi untuk Pemenuhan Gizi Harian Anak

SKM Bukan susu untuk balita


SKM Bukan Susu yang  Bisa Dikonsumsi untuk Pemenuhan Gizi Harian Anak- Penemuan fakta bahwa SKM bukan susu tentu saja menggemparkan negeri. Bagaimana tidak? SKM atau Susu Kental Manis sudah lama menjadi bagian dari menu harian keluarga Indonesia. Di desa maupun di kota sama saja. SKM masuk daftar belanja bulanan. Karena banyak menu makanan yang lebih lezat setelah dikasih topping Susu Kental Manis. 


Bertahun-tahun  segelas susu kental manis hangat sudah terbiasa tersaji di meja makan masyarakat Indonesia. Puluhan tahun lalu segelas SKM memang menjadi minuman mewah. Tidak semua rumah bisa menyajikan segelas susu kental manis hangat di meja. Akhirnya banyak yang menganggap susu kental manis penyempurna gizi harian keluarga. Sama seperti susu sapi atau susu lainnya. Sehingga mengkonsumsi SKM dalam bentuk minuman menjadi tradisi turun temurun. 


Ketika Kemenkes dan BPOM memberikan sosialisasi bahwa SKM bukan susu dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi sebagai minuman harian, tentu saja banyak yang tercengang. SKM sudah melekat di masyarakat sebagai susu yang bisa dimunum kapan saja. Bahkan, ada yang memberikan SKM untuk balitanya sebagai pengganti ASI dengan alasan harganya lebih murah dari pada susu formula. 


SKM bukan pengganti ASI

SKM bukan pengganti ASI


Meskipun SKM bisa menambah cita rasa makanan menjadi lebih manis dan lezat, Namun, SKM tidak dianjurkan untuk dikonsumsi balita. Usia balita masih membutuhkan lemak dan protein yang tinggi untuk tumbuh kembangnya. 


Ahli Gizi dari Persatuan Dokter Gizi Klinis Indonesia (PDGKI) menjelaskan bahwa SKM tidak bisa disetarakan dengan UHT atau susu bubuk lainnya. Dalam 1 sajian SKM terdapat 40g gula. Sementara itu, susu biasa seperti UHT cokelat 200c misalnya, hanya mengandung 14g gula. 


Menurut IDAI, susu jenis SKM tidak boleh diberikan kepada bayi dan anak-anak karena banyak kehilangan nutrisi dalam proses pengolahannya. Kandungan gula yang berlebih dalam SKM juga akan berdampak buruk untuk kesehatan anak jangka panjang Seperti kerusakan gigi, obesitas, dan diabetes.  Anak-anak yang sudah terbiasa dengan minuman manis sejak dini,  akan susah mencoba jenis makanan lain yang lebih banyak nutrisinya tapi rasanya kurang manis. 


Blusukan Bersama YAICI dan Muslimat NU di Sidoarjo

yaici kerjasama dengan muslimat nu sidoarjo




Tergerak untuk mengedukasi keluarga Indonesia agar lebih bijak memakai SKM, YAICI bersinergi dengan Muslimat NU untuk turun langsung ke masyarakat. Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia( YAICI) yang berpusat di Tangerang ini lahir tahun 2017 dan memiliki tujuan mulia meningkatkan derajat kesehatan dan pengetahuan perempuan Indonesia sebagai ujung tombak dalam keluarga. Sehingga ke depannya mampu menumbuhkan anak-anak sehat, cerdas, dan berbudi pekerti luhur. 


Tujuan mulia YAICI sejalan dengan program Muslimat NU  bidang kesehatan, sehingga pada hari minggu, 6 Maret 2022 bersinergi melakukan edukasi gizi & pencarian fakta penggunaan kental manis sebagai minuman susu balita di masyarakat. Selain seminar, kegiatan blusukan juga dilakukan di lokasi sekitar kantor Pimpinan Cabang Muslimat NU Sidoarjo. Muslimat NU dinilai memiliki kader yang masiv dari pusat sampai tingkat bawah. Sehingga edukasi tentang SKM bukan susu akan mudah sampai ke semua kadernya di setiap daerah. 

kegiatan YAICI DAN MUSLIMAT NU SIDOARJO

Sidoarjo dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinkes Jawa timur melalui e-PPGBM di 38 kabupaten/kota di Jawa timur, ada 344.019 balita menderita gagal tumbuh (stunting) dan angka tertinggi ada di Sidoarjo. Sungguh miris karena Sidoarjo adalah kabupaten yang bertetangga dengan ibu kota provinsi yaitu Surabaya. 


Gagal tumbuh (stunting) adalah kondisi gagal tumbuh, gagal kembang yang terjadi pada anak usia di bawah lima tahun atau mulai usia 0-2 tahun. Stunting bisa dialami anak-anak di pedesaan maupun area perkotaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti sanitasi, pola makan, dan pola asuh. Pola makan ini termasuk pemberian makanan/ minuman yang tidak memenuhi standar gizi seperti memberikan SKM untuk minuman anak sehari-hari sebagai pengganti susu sapi. Padahal SKM bukan susu. 


Kami menyusuri gang-gang yang cukup sempit persis di belakang pusat pertokoan yang selalu ramai dengan orang lalu orang berbelanja. Area yang menjadi pusat kota ternyata menyimpan cerita miris tentang perkembangan anak-anak kampung di sudut gang. Segerombolan bocah yang mengaku sangat menyukai SKM ketika ditanya oleh salah satu rekan kami. 

SKM BUKAN SUSU


Kami juga mengunjungi bocah 9 tahun yang kondisinya cukup memprihatinkan. Adik bernama zahra ini menderita Ceberal Palsy. Vaksinasi dan pemberian ASI sudah komplit namun selama si ibu kurang memperhatikan kehamilannya saat mengandung adik Zahra. Selama ini tidak banyak yang mengedukasi calon ibu bahwa proses kehamilan sangat berpengaruh terhadap kondisi anaknya kelak. 


SKM BUKAN SUSU skm TINGGI KANDUNGAN GULA


Kami melanjutkan blusukan ke gang lain yang tak kalah sempit. Kami bertemu dengan seorang ibu yang memiliki 2 buah hati berusia 3 dan7 tahun.  Si kecil bernama Vino yang berusia 3 tahun selama ini hanya diberikan susu dan roti karena tidak menyukai aneka jenis makanan lain. Sesekali diberikan SKM rasa cokelat. Akhirnya pihak YAICI memberikan edukasi seputar SKM bukan susu karena kandungan gulanya tinggi. SKM tidak disarankan diberikan kepada balita.  


Kegiatan kemarin memperikan banyak pandangan baru kepadaku bahwa di sekitar kita masih banyak masyarakat yang belum teredukasi tentang pemenuhan gizi dan tingginya kandungan gula dalam SKM. Sehingga kurang bijak memberikan SKM untuk anak-anak terutama balita. Karena SKM bukan susu. 




 


Komentar